KEAJAIBAN ANUGERAH ALLAH
TITUS 2 : 11-15
Firman Tuhan ini menguraikan tiga dampak dari orang-orang yang sudah mengalami KASIH KARUNIA ALLAH, antara lain:
I. MEMBENCI DOSA & MENCINTAI KEBENARAN (ay.12)
A. SIKAP MEMBENCI DOSA
Dijelaskan pada ayat 12a yang mengatakan: “Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi”. Artinya, orang yang sudah diubahkan oleh Tuhan, harus benar-benar berbeda dengan kehidupan sebelumnya. Kalau sebelumnya, orang yang bersangkutan hidup dalam dosa, maka setelah menerima Kasih Karunia Allah, berubah menjadi pribadi yang sungguh-sungguh membenci dosa. Hal ini juga terlihat pada kesaksian Rasul Paulus setelah diubahkan oleh Tuhan (Filipi 2:8). Diayat ini dijelaskan bahwa, setelah rasul Paulus bertemu dengan Tuhan, dia menganggap masa lalunya yang gemar berbuat dosa sebagai “sampah”. Pernyataan Paulus ini merupakan ekspresi perasaan Paulus yang begitu jijik melihat masa lalunya yang gemar berbuat dosa.
B. SIKAP MENCINTAI KEBENARAN
Diuraikan secara jelas dalam ayat ini yaitu, “supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini.” Cara hidup seperti ini merupakan kebalikan dari realita kehidupan manusia saat ini yang tidak lagi merindukan kebijaksanaan, tidak lagi mencintai keadilan (melainkan mementingkan kepentingan diri), serta hilangnya kerinduan dalam menyembah dan menghormati Allah dalam hidupnya. Orang yang bersangkutan, selalu ada kerinduan untuk hidup secara terus menerus di dalam kehendak Allah, walau menghadapi banyak tekanan. Hal ini sesuai dengan khotbah Tuhan Yesus di bukit yang mengatakan “berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah karena merekalah yang empunya kerajaan Allah (Mat.5:3). Miskin dihadapan Allah dalam konteks ini adalah bukan karena kekurangan materi tetapi mengarah pada kemiskinan karena orang yang bersangkutan tidak memiliki jaminan hidup dan sumber pertolongan lain selain dari pada Allah sendiri. Sehingga dalam kehidupannya, tidak pernah berhenti untuk mencari Allah dan kehendak-Nya.
II. MEMILIKI PENGHARAPAN YANG PASTI (ay.13).
Selain Allah mendidik kita untuk membenci dosa dan mencintai kebenaran, Allah juga menjanjikan kita “PENGHARAPAN YANG BESAR” seperti yang dikatakan dalam bagian ini bahwa “dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan pernyataan kemuliaan Allah yang maha besar dan Juru selamat Tuhan kita Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik (13-14). Allah tidak mengajarkan kepada kita bahwa, setiap orang yang sudah diselamatkan, bebas dari penderitaan, sakit penyakit, kemiskinan dan berbagai macam permasalahan lain semasa hidup didunia ini. Tetapi Ia (Allah) mengajarkan bahwa kehidupan yang kita jalani saat ini, hanyalah proses dan persiapan kita untuk menyambut penggenapan janji-janji Allah yang sangat besar di masa yang akan datang, “YANG TIDAK BISA DIBANDINGKAN DENGAN KEBAHAGIAN YANG ADA DI DUNIA INI. Indikasi orang yang seperti ini adalah, tidak mudah menyerah, tidak mudah mengeluh dan selalu saja menjadikan segala bentuk tantangan sebagai kesempatan yang indah untuk terus bangkit dan bertumbuh di dalam Tuhan. Hal ini sesuai dengan Firman Allah dalam Ibrani yang mengatakan, “pengharapan adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita “. SAUH sangat penting bagi kapal agar tetap pada posisinya pada saat diterjang oleh badai. Demikian juga halnya dengan kita. Pada saat kita memiliki ‘PENGHARAPAN YANG PASTI” maka kita selalu bertahan walaupun menghadapi berbagai macam tantangan hidup.
III. KERELAAN UNTUK DIPAKAI OLEH TUHAN DALAM MENGGENAPI RENCANA-NYA (ay.15).
Pada bagian ini, Allah mengajarkan kepada kita bahwa penebusan yang dikerjakan Kristus di atas kayu salib, bukan hanya supaya kita lepas dari penghakiman karena dosa-dosa kita, tetapi juga supaya kita “MENJADI ALAT BAGI DIA”. Hal ini, nyata dengan jelas dari Firman Tuhan berikut ini, “Beritakanlah semuanya itu, nasihatilah dan yakinkanlah orang dengan segala kewibawaanmu (15). Dari Firman Allah ini, muncul pertanyaan, mengapa Tuhan tidak mengatakan, bolehkah engkau memberitakan semuanya itu..? Bolehkah engkau menasehati dan meyakinkan orang-orang dengan segala kewibawaanmu...? Ini membuktikan bahwa melayani Tuhan merupakan paket dari keselamatan itu sendiri. Pada saat kita diselamatkan maka pada saat itu juga kita diberi tanggung jawab sebagai mana yang diuraikan pada ayat-ayat tersebut diatas yakni, “MEMBERITAKAN, MENASEHATI, dan MEYAKINKAN setiap orang bahwa KESELAMATAN hanya ditemukan di dalam Kristus. Indikasi orang yang seperti ini, selalu rindu untuk melayani Tuhan, walaupun tidak diperintahkan. Amin!
|
TELAH TERBIT

TLB Edisi 89

Tatik dan Totok Edisi 14
|